Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya tambang batubara dan perkebunan yang membentang luas. Namun, di balik potensi tersebut, tersimpan "harta karun" hijau di sepanjang garis pantainya, yakni hutan mangrove. Jika dikelola secara tepat, ekosistem pesisir ini tidak hanya berperan menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga miliaran rupiah melalui skema perdagangan karbon yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Tanah Bumbu menangkap peluang mangrove sebagai peluang investasi karena sektor ini menawarkan potensi ekonomi baru berbasis ekonomi hijau (green economy) yang sangat menjanjikan lewat skema perdagangan karbon (carbon trade) dan pemberdayaan komoditas lokal. Sebagai instansi yang merupakan pintu gerbang investasi daerah, DPMPTSP berperan krusial dalam mengalihkan ketergantungan ekonomi Tanah Bumbu dari sektor ekstraktif tambang menuju investasi berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Tak Ingin buang waktu, hari Selasa 28 Juli 2026, Bryan Ajisoko selaku Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Tanah Bumbu gerak cepat memimpin langsung serta menggaet Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat untuk melakukan Penyusunan Dokumen Kajian Pre-Feasibility (Pre-FS) Perdagangan Karbon melalui pemanfaatan Hutan Mangrove yang mana Tim tenaga Ahlinya adalah Dr. Eng. Akbar Rahman, MT selaku Ketua Tim Tenaga Ahli untuk melakukan Kajian Dokumen tersebut.
Tak Seperti biasanya, jika ekspose awal sebuah dokumen kajian hampir selalu di paparkan atau di sampaikan di hotel atau di kantor, DPMPTSP kali ini melaksanakan langsung di Tengah area mangrove yang ada di Desa Kersik Putih Kecamatan Batulicin. Dari kurang lebih 5.900 Hektare mangrove yang tersebar di Kabupaten Tanah Bumbu, sekitar 39,62 Hektare berada di Sepanjang Pesisir Desa Kersik Putih. Secara geografis Desa Kersik Putih ini menjadi salah satu pintu gerbang mangrove dengan jarak hanya 15 menit dari pusat Kota Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu, pengunjung akan disuguhi pemandangan mangrove indah dengan kombinasi yang unik.
Kegiatan Ekspose Awal Dokumen Kajian Pre- Feasibility (Pre-FS) Perdagangan Karbon melalui pemanfaatan Hutan Mangrove di hadiri langsung Kepala Dinas PMPTSP Beserta Bidang Penanaman Modal dan beberapa Pejabat Fungsionalnya, SKPD yang terkait dengan penyusunan Dokumen ini antara lain Oleh Bappeda, Dinas PUPR, Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup serta beberapa SKPD lain, dan juga dihadiri oleh Kepala Desa Kersik Putih serta kelompok Tani Peduli Mangrove Kersik Putih.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas PMPTSP, Bryan Ajisoko menyampaikan bahwa Dokumen kajian ini sudah sesuai dengan Visi dan Misi Bapak Bupati Andi Rudi Latif untuk periode 2025–2030 yaitu “BerAKSI Menuju Tanah Bumbu yang Maju, Makmur, dan Beradab melalui Penguatan Sumber Daya Manusia dan Tata Kelola Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan”. Dokumen pra-FS carbon trade menjadi bukti nyata dari penerapan "Tata Kelola Pemanfaatan Sumber Daya Alam Yang Berkelanjutan". Program ini mengonversi potensi serapan karbon hutan mangrove (blue carbon) menjadi nilai ekonomi daerah tanpa merusak atau mengeksploitasi alam secara fisik. Program ini juga sesuai dengan Misi Prioritas Ke-5 yang secara tegas menyebutkan “Mewujudkan Penataan Kota dan Pembangunan Desa yang berkelanjutan dengan memperhatikan tata ruang dan lingkungan”.
Dr. Eng. Akbar Rahman, MT selaku narasumber utama menyampaikan laporan awal dengan lugas mulai dari latar belakang, potensi mangrove Tanah Bumbu, metodologi, data yang dibutuhkan, konsep carbon trade, hasil kajian pendahuluan, tahapan kajian serta di lanjutkan dengan diskusi yang berjalan lancer, hangat, bersahabat antara sesama peserta ekspose ditengah hutan mangrove dan hembusan angin dan deburan ombak laut di Mangrove Beach Desa Kersik Putih Kecamatan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu.
Penyusunan Dokumen ini merupakan salah satu tonggak awal menju masa depan ekonomi Tanah Bumbu yang kini tidak lagi hanya bergantung pada apa yang digali dari perut bumi, melainkan pada apa yang dirawat di atas permukaan air pesisirnya. Menjaga mangrove tetap lestari adalah investasi terbaik untuk memastikan harta karun miliaran rupiah ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.
